Tugas 3 - Kerangka Judul Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

1. Masalah-masalah pembelajaran yang di hadapi dan rasakan sehari-hari dikelas

Salahsatu masalah yang timbul pada Mata Pelajaran Pemrograman Dasar Berbasis Desktop di Kelas X RPL, SMK Pasundan Cijulang, Ciamis, diantaranya kurangnya pemahaman siswa dalam menghapal fungsi dan letak dari menu, sub menu yang terdapat pada software Micrososft Visual Basic, sehingga menyulitkan siswa kelas X RPL dalam menyelesaikan belajar praktek maupun saat ujian.

2. Bagaimana cara mengatasi masalah tersebut.

Untuk mengatasi masalah tersebut diatas, penulis membuat kartu bergambar, yang berisikan gambar-gambar (ikon) menu dan sub menu yang terdapat pada software Microsoft Visual Basic berikut dengan fungsi dari menu-menu tersebut.

3. Rumuskan judul penelitiannya, rumusan masalah dan tujuannya.

A. Judul Penelitian :
Penggunaan Kartu Bergambar Untuk Meningkatkan Pemahaman Siswa Kelas X RPL Pada Mata Pelajaran Pemrograman Dasar Berbasis Desktop di SMK Pasundan Cijulang

B. Rumusan Masalah:
Dengan merujuk pada papasan di atas maka dapat diungkapkan mengenai rumusan masalah: Apakah penggunaan kartu bergambar dapat meningkatkan pemahaman peserta didik tentang program Microsoft Visual Basic?

C. Tujuan penelitian:
Tujuan dari penelitian tindakan kelas ini adalah untuk meningkatkan pemahaman peserta didik dalam pengenalan ikon menu dan submenu pada program Microsoft Visual Basic.

Tugas 2 - Pengembangan KD Menjadi Indikator

Tugas Kedua Workshop Program Pendidikan Profesi Guru Terintegrasi (PPGT) SMK Produktif, Program Diktat Teknik Komputer dan Informatika di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Tahun 2013. Mengembangkan KD menjadi Indikator pada Mata Pelajaran Permrograman Dasar, Untuk Siswa Kelas X SMK (Rekayasa Perangkat Lunak).
Pengembangan KD Menjadi Indikator
Mata Pelajaran             : Pemrograman Dasar
Kelas                             : X (Sepuluh)
Guru                              : Taopik Kurrohman
Semester                       : 1 (Satu)
KI 1
:
Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya
KI 2
:
Menghayati dan Mengamalkan perilaku jujur, disiplin,tanggungjawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan proaktif dan menunjukan sikap sebagai bagian dari solusi atas pelbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
KI 3
:
Memahami, menerapkan dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, dan prosedural berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dalam wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian dalam bidang kerja yang spesifik untuk memecahkan masalah.
KD
:
3.1   Memahami penggunaan data dalam algoritma dan konsep algoritma pemrograman
Indikator
:
1.       Memahami konsep algoritma, dan Struktur algoritma
2.       Memahami karakteristik tipe data, variabel, operator, pseudocode, dan flowchart
3.       Mengamati berbagai contoh penerapan algoritma dasar dalam kehidupan sehari-hari
KI 4
:
Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu melaksanakan tugas spesifik di bawah pengawasan langsung.
KD
:
4.1   Menggunakan algoritma pemrograman untuk memecahkan permasalahan
Indikator
:
1.       Membuat algoritma sederhana untuk menyelesaikan permasalahan menggunakan bahasa natural, flowchart dan pseudocode
2.       Menerapkan konsep algorima (bahasa natural, flowchart dan pseudocode) untuk menyelesaikan permasalahan
3.       Mempresentasikan algoritma penyelesaian permasalahan
Keterangan:
KI = Kompetensi Inti
KD = Kompetensi Dasar

Tugas 1 - Kompetensi Dasar Kolaborasi - Seni Budaya

Tugas Pertama Workshop Program Pendidikan Profesi Guru Terintegrasi (PPGT) SMK Produktif, Program Diktat Teknik Komputer dan Informatika di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Tahun 2013. Membuat Kompetensi Inti, Kompetensi Dasar, dan Kolaborasi pada Mata Pelajaran Seni Musik, Untuk Siswa Kelas XI SMK.


MATA PELAJARAN : SENI BUDAYA
KELAS : XI (SEBELAS) SMK

KOMPETENSI INTI
KOMPETENSI DASAR
KOLABORATIF
1.      Menghayati dan mengamalkan  ajaran agama yang dianutnya
1.1        Menunjukkan sikap penghayatan dan pengamalan  serta bangga terhadap karya seni musik sebagai bentuk rasa syukur terhadap anugerah Tuhan

2.      Menghayati dan mengamalkan  perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif  dan proaktif,  dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia
2.1     Menunjukkan sikap kerjasama, bertanggung jawab, toleran, dan disiplin melalui aktivitas berkesenian
2.2     Menunjukkan sikap santun, jujur, cinta damai dalam mengapresiai seni dan pembuatnya
2.3     Menunjukkan sikap responsif dan pro-aktif, peduli terhadap lingkungan dan sesama, menghargai karya seni dan pembuatnya

3.      Memahami,  menerapkan dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural dan meta kognitif  berdasarkan rasa ingin tahunya  tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah
3.1      Menganalisis konsep, teknik dan prosedur dalam proses berkarya musik
3.2      Mengevaluasi  karya  musik berdasarkan bentuk, teknik,  jenis karya, dan  nilai estetisnya
3.3      Menganalisis hasil penampilan pergelaran musik berdasarkan konsep, teknik dan prosedur yang digunakan
3.4      Menganalisis hasil pergelaran musik berdasarkan konsep, teknik. prosedur, dan tokoh  pada  kritik   musik sesuai konteks budaya

4.   Mengolah, menalar dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak  terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif , serta mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan
4.1      Mengubah musik secara sederhana dengan partiturnya






4.2     Menulis karya musik sederhana



4.3     Menampilkan musik idividual. Kelompok atau paduan suara



4.4     Membuat tulisan tentang karya-karya musik dan pencipta
4.1.a      Mengubah musik dan partiturnya secara sederhana menggunakan Software (Audacity, dan Sibelius)
4.1.b     Menyimpan musik hasil editing dalam format file .mp3

4.2.a      Menulis karya musik sederhana menggunakan software Ms Word

4.3.a      Menampilkan musik menggunakan pemutar musik yang tersedia (komputer, tablet PC, dan handphone)


4.4.a      Membuat tulisan tentang karya-karya musik dan penciptanya menggunakan Ms. Word
4.4.b   Mempublikasikan tulisan pada blog pribadi masing-masing.

Keterangan:
Kolom berwarna merah pada tabel merupakan kolaborasi TIK untuk Mata Pelajaran Seni Budaya

Personal Phylosophy - What Am I Doing After It?

Senang rasanya berjumpa dengan teman-teman yang juga mengambil pilihan yang sama. Bukan karena mereka tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, tetapi kendati mereka bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, gaji yang jauh lebih baik, karier yang jauh lebih baik, tapi toh mereka mengikuti panggilan hidup mereka. Menjadi seorang guru, dan akan menjadi calon guru profesional. Insya Allah.

Sesuai dengan perjanjian awal, mengenai keterikatan saya dan para peserta PPGT dengan DIKTI, berarti saya dan kawan-kawan lain harus mengabdikan diri di daerah yang lebih membutuhkan, dan mengabdikan diri pada orang-orang yang lebih membutuhkan.

Visi lainnya adalah menjadi guru profesional. Guru yang tidak seperti tukang cukur, yang bisa memotong rambut orang lain namun tidak dapat memotong rambutnya sendiri. Tidak hanya mampu mengajarkan sebelum ia mampu melakukannya, dan berprilaku sesuai dengan apa yang ia katakan.

Seperti Herkules dan kisah hidupnya, perjalanan ini mungkin akan memakan waktu seumur hidup. Perjalanan dalam kesendirian itu, pada dirinya sendiri, juga adalah sebuah perjuangan. Karena itu saya bersyukur Tuhan izinkan saya berjumpa dengan orang-orang yang mengambil pilihan sama dengan saya, walaupun panggilan kami tidak persis sama.

Saya berharap saya seberuntung Herkules yang bisa menemukan tempat yang menanti dia, tempat “where he belongs” dalam masa hidupnya, dalam usia yang muda pula. Tetapi mungkin itu hanya ada di film. Dalam hidup ini, mungkin lebih penting kita tetap mengerjakan yang terbaik di hari ini untuk memaksimalkan tercapainya satu mimpi yang besar, yang jauh lebih besar daripada hidup saya sendiri. Mungkin itu yang membuat hidup ini jadi bermakna. Bahkan jika mimpi itu baru tercapai setelah hidup ini berakhir.
Semoga dalam perjalanan saya selanjutnya, saya menemukan titik terang yang dapat terus menuntun saya sampai akhir perjalanan ini. Amin.

Personal Phylosophy - Terdampar Di Pulau Harapan

Bagian tersulit dalam sebuah perjalanan panjang adalah di tengah perjalanan, bukan? Di awal, semua terasa begitu indah dan meyakinkan. Kita penuh dengan optimisme. Di akhir, kita bisa melihat ke belakang dan bersyukur atas semua yang telah terjadi. Tetapi di tengah? Di tengah adalah masa yang penuh pertanyaan.

Benarkah perjalanan yang saya tempuh ini? Benarkah belokan terakhir yang saya ambil itu, atau jangan-jangan saya seharusnya mengambil belokan yang lain? Akankah saya tiba sebelum malam? Akankah semuanya baik-baik saja?

Keadaan mungkin akan lebih menyenangkan ketika banyak orang mengambil jalur yang sama, tetapi ketika perjalanan itu adalah perjalanan yang tidak populer, maka tekanan dari pertanyaan-pertanyaan di atas akan berlipat ganda. Kenapa? Karena kita sendirian! Menemukan rekan seperjalanan bukanlah hal yang mudah. Kalau sampai ada satu saja, itu adalah anugerah yang luar biasa dari Tuhan.

Saya percaya bahwa setiap orang diciptakan unik oleh Tuhan, setiap orang memiliki kekuatan dan kelemahannya masing-masing, setiap orang punya ceruknya sendiri untuk ia kerjakan selama hidupnya dan yang menjadi warisannya bagi umat manusia setelah kematiannya. Tetapi, mengerjakan porsi kita yang unik itu bukanlah mudah bukan?

Dua tahun menjadi guru honorer telah menambah warna kehidupan saya. Pilihan yang sempat saya ragukan itu perlahan-lahan mengubah hidup saya kearah yang lebih baik. Menjadi seorang guru memang sangat melatih kesabaran, melatih keikhlasan dan kesederhanaan, serta mendapat bonus amalan ibadah. Insya Allah. Walaupun pada kenyataannya kemantapan saya untuk menjadi guru tak diiringi dengan peningkatan kesejahteraan. Honor yang jauh dibawah Upah Minimum Regional (UMR) menjadikan saya pribadi yang sederhana, namun tak sesederhana do’a dan cita-cita saya yang ingin menjadi manusia sukses.

Malam itu saya mendapat telpon dari teman seperjuangan saya, teman yang jalan hidupnya didunia pendidikan tidak jauh berbeda dengan saya. Dia menyarankan saya untuk ikut bersama mendaftar program beasiswa PPGT.

Tersisa waktu 2 hari untuk pendaftaran program beasiswa PPGT, dan dalam jangka waktu tersebut saya mencari informasi tentang kejelasan program yang di sekolah tempat saya mengajar tidak ada informasi mengenai program ini, hingga akhirnya pada malam terakhir penutupan pendaftaran saya mencoba untuk mendaftarkan diri.

Tak besar harapan saya saat itu untuk bisa masuk dan mendapatkan beasiswa PPGT. Selain karena saya tidak mendapatkan banyak informasi tentang kejelasan program ini, saya juga merasa tidak percaya diri dengan latar belakang pendidikan saya yang bukan dari Perguruan Tinggi terkemuka. Namun Allah selalu punya kehendak, tanpa diduga saya berhasil melewati serangkaian test akademik dan test wawancara di Universitas Pendidikan Indonesia dan harus mengikuti pendidikan selama 1 tahun di Jakarta.

Pilihan berat kembali harus saya hadapi. Pilihan untuk tetap mengajar didaerah saya dengan honor seadanya, atau mengikuti PPGT yang menawarkan harapan yang lebih manis, tapi tanpa kepastian dan jauh dari rumah.
Faktor jaraklah sebenarnya yang paling membuat pilihan ini berat. Ratusan kilo meter jarak antara Pangandaran dan Jakarta harus saya tempuh. Jauh dari rumah, jauh dari teman-teman dan tentunya jauh dari orangtua. Namun keputusan harus segera diambil. Berbagai motivasi dan dukungan dari rekan-rekan dikantor terus berdatangan. Izin dari kedua orangtuapun telah saya dapatkan. Hingga akhirnya saya mantap untuk menuju Jakarta.

Tanggal 6 September 2013 saya berangkat ke Jakarta. Kota yang menawarkan sejuta harapan. Kota yang akan merubah keseharian saya sebagai pengajar menjadi pelajar, tepatnya menjadi mahasiswa di  Universitan Negeri Jakarta (UNJ).

Suka duka mengajar di SMK Pasundan Cijulang harus terhenti sejenak. Saat ini saya tengah mengikuti program beasiswa Pendidikan Profesi Guru Terintegrasi (PPGT) yang dikhususkan untuk Guru Produktif  SMK dan Lulusan Sarjana yang ingin menjadi guru profesional.

Genap 30 hari lamanya saya disini, bertemu dengan orang-orang baru, bertemu dengan suasana baru, yang semuanya harus saya seimbangkan. Tendampar di pulau harapan bernama PPGT.